Daisypath Anniversary tickers

Daisypath Anniversary tickers

Friday, May 30, 2014

Tentang Rumah dan Garansinya

Keluarga kecil kami beli rumah dari orang yang ngebangun untuk dijual (dia punya 1 rumah lalu diambrukin, dijadiin 2 rumah baru) - untuk selanjutnya orang tersebut disebut pak AD. Waktu awal-awal proses beli dulu, orangnya baek. Apa yang kurang, dibetulin. Lantai boleh pilih sendiri. Warna cat juga pilih sendiri.

Lalu perjanjian AJB (Akta Jual Beli) pun dilakukan. Ndilalah baru beberapa minggu, rumah mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan minor. Karetnya jendela melar & copot. Retak-retak di tembok muncul. Minta diperbaiki, OK diperbaiki. Lalu pintu meleyot menyebabkan susah ditutup. Pak AD mulai angkat tangan, cuma ngasih nomor tukang kayunya untuk diperbaiki.

FYI proses memperbaiki pintu berarti itu pintu harus dijebol, kayu dioven lagi, lalu baru pintunya dipasang lagi. Alamak, kan rumah udah ada isinya, masa iya ga punya pintu beberapa hari?

Suami sempet debat sama pak AD untuk mengganti pintu, tapi pak AD-nya malah nyolot, marah-marah. Di benak suami, udah bayar rumah mahal-mahal, kok ternyata mutunya gini & ga mau dibenerin. Tapi paknya ngebentak-bentak. Uh ga enak lah situasinya. Di akhir debat panas via telpon, pak AD nawarin ganti Rp 1.5juta untuk kami beli pintu baru. Tapi karena berdasarkan survey, pintu kayu itu supermahal, kami putuskan biarin aja lah pintunya begitu (akhirnya bapak yang mbetulin pintu - magic hands of my father, alhamdulillah!) Malas pula berhubungan lagi dengan pak AD.

Selidik punya selidik, lihat AJB, ada kalimat semacam ini:
"Setelah perjanjian jual beli, segala kerugian dan keuntungan rumah ini menjadi tanggungjawab pembeli."
(Yah kalimatnya nggak gitu sih, lebih panjang khas notaris, tapi intinya begitu.)

Jadi ya aku bilang ke suami, mau gimana juga, gara-gara kalimat itu, di mata hukum kita yang salah kalo minta ganti rugi blablabla.

Beberapa bulan kemudian, pasca Lebaran, sudah maap-maapan via SMS, nyaris 1 tahun setelah AJB, pak AD datang karena kami harus pecah PBB (karena rumah sebelah -- yang tadinya 1 rumah dengan yang kutempati -- sudah mau dibeli orang). Pak AD baik lagi, menawarkan apa yang bisa dibantu tentang rumah kami, mumpung masi ada tukang di sebelah. Ya kami bilang lah, tembok mulai retak-retak, dapur bocor karena tampias dari jemuran atas. Dia menawarkan tukangnya memperbaiki.

Oke, alhamdulillah.. Tukang pun nambal retakan-retakan yang tersebar di penjuru rumah dengan semen putih. "Masih nunggu catnya nih," kata pak tukang. Tembok serumah jadi blonteng-blonteng. Pasca penambalan itu, pak AD bilang, kalo catnya udah ada, hubungin tukangnya aja. Lhooooo ternyata kami yang disuruh beli cat? Pas ditanyain & minta cat ke pak AD, ga ragu-ragu pak AD-nya ngomelin suami. "Bukannya berterima kasih udah dibantuin tukang malah ngelunjak minta cat! Saya ini udah ga ada tanggungjawab lagi sama rumah Anda! Sampe kapan saya mau dikomplain terus?!? Dulu masalah pintu juga gitu!" Dan bermenit-menit percakapan via telpon yang di loud speaker suami, menyakitkan, bikin nangis waktu sholat :'( *dasarnya hati ini terlalu sensitif*

Makjleb. Balik lagi ke AJB. Kok bisa ya kami sebagai pembeli lalai meminta garansi??? Kami terlalu positif thinking sih karena pak AD tampaknya baik... Sampe-sampe nggak meminta kesepakatan tentang masa garansi rumah.

Beberapa teman cerita, waktu beli rumah, mereka ada perjanjian sama developer tentang garansi 6 bulan & bahkan ada yang sampai menunggu 1 x periode musim hujan.

Kok ini rumah nggak ada garansinya yaaaa? Retak ini juga bukannya muncul barusan, tapi udah berbulan-bulan lalu tapi kami malas komplain karena tragedi "pintu meleyot" yang ujungnya ngga enak.

Pas lagi arisan sama ibu-ibu tetangga (peserta arisannya ibu2 yang umurnya 2x lipat dari aku! Jadi paling kecil :p), ada seorang ibu yang cerita, dia juga beli rumah buat anaknya dari pak AD, dan yaaaa tiap ada komplain berkaitan dengan bangunan, pak AD-nya malah marah-marah dan mengucapkan kata-kata menyakitkan... Yaaa ternyata beliau wataknya memang begitu ya... Mending nggak berurusan lagi ama dia T_T

Astaghfirullah :( Jadi ngomongin orang. Padahal seumur-umur ga pernah punya musuh. Welcome to real world, meet real people.

Pelajarannya adalah, ketika beli sesuatu yang besar & mahal seperti RUMAH, pastikan ada kesepakatan dengan penjual mengenai garansi kerusakan & kebocoran. Karena, beli kipas angin aja dapet garansi, masa' rumah enggak ada garansinya??? *sigh

-ditulis beberapa hari setelah kejadian, saat kepala sudah dingin, sudah move on, dan berniat ngga mau minta tolong ke paknya lagi-

2 comments:

  1. Salam kenal ya tia, gw udah lama ngikutin blog kamu ini.
    Untuk masalah rumah, entah dari developer atau pake kontraktor atau malah pake tukang dan mbangun sendiri (kayak gw) biasanya memang ada perjanjian garansi hasil kerja 6 bulan. Jadi kalo selama 6 bulan ada kerusakan masih ditanggung dan dibenerin tanpa kena biaya lagi.
    Yah gak apa-apa lah, anggap aja kejadian sama Pak AD itu pelajaran dan tabungan pahala buat tia sekeluarga, semoga nanti ada urusan lain lebih dimudahkan sama Allah.


    etty
    www.emaknyashira.wordpress.com

    ReplyDelete